Teori Tektonik Lempeng

Pada masa lalu para ahli menganggap bahwa daratan dan lautan bersifat statis, bentuk-bentuk benua dan lautan sendiri tidak berubah dari sejak awal pembentukan bumi.

Menurut teori Pergeseran Benua, superbenua Pangaea mulai terpecah sekitar 225-220 juta tahun yang lalu, dan pada akhirnya terpecah menjadi benua-benua yang kita kenal sekarang. Source: http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/graphics/Fig2-5globes.gif

Sebelum terminologi “Tektonik Lempeng” mulai disepakati, konsep bumi yang dinamis dipelopori teori Continental Drift (Pergeseran Benua) yang diperkenalkan oleh meteorologist Jerman, Lothar Wagener, pada tahun 1915. Teori ini menyatakan bahwa pada periode Kapur (sekitar 200 juta tahun lalu), semua benua dulunya menyatu dalam satu superbenua yang disebut Pangea, yang kemudian terpecah menjadi kontinen-kontinen lebih kecil, berpindah secara mengapung menempati posisinya seperti sekarang ini.

Ilustrasi Teori Continental Drift. Menurut teori ini Bumi dahulunya hanya satu daratan yang disebut Pangea. (Sumber: Britannica)

Sayangnya kelemahan yang sangat fatal dari teori ini adalah tidak dapat menerangkan secara mendasar gaya-gaya apa yang bisa menggerakan benua-benua tersebut saling menjauhi, sehingga masyarakat ilmuwan yang sangat teguh pada pendirian bahwa bentuk benua-benua dan samudera yang membentuk permukaan bumi adalah bentuk yang tetap, menolak teori ini, walau bukti-bukti ilmu pengetahuan yang ada saat itu cocok dengan teorinya.

Sebaran Fossil di benua-benua. Source: http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/graphics/Fig4.gif

Tidak terpengaruh penolakan tersebut, Wagener membaktikan sisa hidupnya untuk membuktikan teorinya. Beliau meninggal kedinginan pada sebuah misi ke Greenland pada tahun 1930.

Setelah kematiannya, bukti-bukti baru dari eksplorasi dasar samudera/lautan dan studi lainnya memicu ketertarikan ulang atas teorinya, yang mengarahkan dimulainya pengembangan teori Plate Tektonik ( Lempeng Tektonik).

Kapal-kapal yang digunakan untuk eksplorasi laut hingga Tahun 1950-an. Data-data yang diperoleh diantaranya morfologi permukaan laut, medan magnet batuan, endapan sedimen & ketebalan kerak samudera. (Sumber: Jason Morgan, 2018)

Pemetaan bawah laut yang banyak dilakukan dari 1900 hingga 1950-an menghasilkan beberapa penemuan baru, salah satunya ketika ditemukannya pegunungan besar di dasar samudera yang mengelilingi bumi,yang kemudian dinamai dengan istilah “Bubungan Tengah Samudera” (Mid-Oceanic Ridge). Penemuan lainnya yaitu adanya medan magnet purba yang terekam pada batuan dasar samudera (paleomagmatisme).

Ilustrasi Global Mid Ocen Ridge (Bubungan Tengah Samudera). (Sumber: USGS)

Penemuan-penemuan ini kemudian memicu ditemukannya teori baru yang disebut Teori Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading). Teori ini dikemukakan pada tahun 1962 oleh Harry H. Hess, seorang geologis dari Princeton University dan Roberts Dietz dari Survey Pantai dan Geodesi Amerika.
Hess berpendapat bahwa kerak samudera merupakan proses daur ulang. Mulanya, kerak samudera yang baru terbentuk di sepanjang bubungan (Mid Oceanic Ridge) lalu bergerak menjauhi bubungan, kemudian secara perlahan masuk di bawah kerak benua dan mengalami penggerusan.

Pada tahun 1858, ahli geografi Antonio Snider-Pellegrini membuat peta yang menunjukkan bagaimana dua benua Amerika dan Afrika dulunya bersatu dan kemudian terpisah.

Benua yang dulunya bersatu sebelum terpisah
Benua-benua setelah terpisah.

Dalam menguraikan penyebab utama pergerakan kerak, Hess menggunakan Teori Arus Konveksi yang sebelumnya dikemukakan oleh Vening Meinesz pada tahun 1930. Teori ini menjelaskan bahwa perpecahan benua dan pergerakan lempeng disebabkan oleh adanya perpindahan energi panas yang terjadi dalam atenosfer bumi. Energi itu sendiri disebabkan oleh adanya peluruhan unsur-unsur radioaktif dalam inti bumi.

Prof. Dr. Harry Hess. Seorang Geologis USA Penemu Teori Sea Floor Spreading (Sumber: gettyimages.com)

= Prinsip Utama Teori Tektonik Lempeng =

Prinsip utama dari Teori Tektonik Lempeng adalah bahwa Bumi ini tersusun atas lempeng-lempeng yang bergerak. Suatu lempeng dapat berupa kerak samudera, kerak benua, atau gabungan dari kedua kerak tersebut. Adanya pergerakan lempeng ini disebutkan oleh adanya arus konveksi, yaitu berupa perpindahan energi panas yang terjadi di lapisan atenosfer.

Tipe Interaksi Antar Lempeng. Convergent (Gerak lempeng saling mendekat), Divergent (Gerak lempeng saling menjauh), Transform (Gerak lempeng bergesekan secara horizontal). (Sumber: Duarte, 2016)
Lapisan bumi yang kita diami terdiri dari lusinan pelat kaku yang oleh geologist disebut lempeng tektonik. Lempeng ini bergeser dan bergerak relatif satu sama lainnya. Source: http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/graphics/Fig1.jpg

Karena semua lempeng-lempeng tersebut bergerak, maka terjadilah interaksi antara satu lempeng dengan lempeng lainnya, interaksi tersebut berpusat di sepanjang batas dari lempeng-lempeng itu. Ada yang berbenturan, ada yang saling menjauh dan ada yang bergeser. Setiap interaksi antar lempeng itulah yang kemudian menimbulkan dinamika di bumi ini, baik perubahan morfologi, aktivitas vulkanisme, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya.

Peta Lempeng Dunia (Sumber: USGS)

Menurut Teori ini, terdapat 13 lempeng besar dan kecil yang membentuk Bumi ini yaitu:

Lempeng Besar:Lempeng Kecil:
Lempeng Pasific (Pasific plate),Lempeng Nasca (Nasca plate)
Lempeng Euroasia (Eurasian plate),Lempeng Arab (Arabian plate)
Lempeng India-Australia (Indian-Australian plate)Lempeng Karibia (Caribian plate)
Lempeng Afrika (African plate)Lempeng Philippines (Phillippines plate)
Lempeng Amerika Utara (North American plate)Lempeng Scotia (Scotia plate)
Lempeng Amerika Selatan (South American plate)Lempeng Cocos (Cocos plate)
Lempeng Antartika (Antartic plate)
13 lempeng yang membentuk bumi ini

Penerapan Teori Tektonik Lempeng salah satunya diaplikasikan melalui model-model tektonik lempeng. Model Tektonik Lempeng mampu mengidentifikasi kemungkinan adanya bahan galian di suatu tempat. Misalnya di Indonesia, endapan emas di Indonesa banyak berasosiasi dengan zona koalisi Lempeng Benua (Continental Collision).

Penampang Tektonik lempeng sebagai dasar teori
dalam eksplorasi bahan galian

Dalam bidang kebencanaan, model Tektonik Lempeng juga mampu memprediksi terjadinya potensi bencana geologi secara regional, sehingga dapat dilakukan usaha untuk mengurangi bencana. Teori Tektonik Lempeng salah satunya melahirkan istilah “Ring of Fire” atau negara yang dilalui gunung api dan gempa bumi.

Ilustrasi Ring of Fire (Sumber: USGS)

Daerah-daerah di Indonesia yang dilalui jalur ini di antaranya Sisi Barat Pulau Sumatera dan Sisi Selatan Pulau Jawa. Pemerintah Indonesia pun sampai saat ini masih menjadikan teori Tektonik Lempeng sebagai panduan utama dalam menentukan perencanaan dan arah kebijakan mitigasi bencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: